Pernah saya menjumpai sebuah seminar, diskusi, talk show, maupun majelis non resmi lainnya atau bahkan tempat saya rapat membicarakan sebuah permasalahan kondisi perusahaan dan kondisi sosial masyarakat yang intinya didalamya membicarakan sebuah permasalahan, bagaimana supaya kehidupan ini bisa lebih tertata tertib dan terkondisikan dengan baik.
Sahut menyahut, diantara para anggota majelis, mengusulkan lebih baik pakai ini itu dan lain sebagainya. Yang jika sample-kan, penyampaian dari seluruh anggota tadi kurang lebih sama dengan yang mengusulkan tentang sebuah solusi akan sebuah permasalahan antrian dan jalan tol.
Berbicara tentang jalan tol, si pengusul menyampaikan lebih baik kita memakai sistem IT yang bisa menertibkan sistem pelaksanaan dengan baik sehingga kita bisa mengontrolnya secara up to date dan meminimalisir kecerobohan. Begitu juga yang di masalah antrian, si pengusul juga mengusulkan agar ada upaya untuk membuat sebuah sistem yang bertekhnologi sehingga dirinya bisa berjalan dengan baik, tidak merepotkan dan memperlama pelayanan, dan para pengantri tanpa harus dipaksa, dirinya sudah tersistem dengan baik oleh alat IT tersebut.
Lebih ekstrim lagi, dalam sebuah perbincangan mengenai dunia perbankan, ada sosok pimpinan salah satu bank swasta yang menyampaikan secara tidak langsung kepada saya bahwa, ada sebuah sistem yang disebut matrix yang dengannya dapat menghitung tingkat kecepatan, ketertiban dan ketepatan layanan seorang customer service, teller hingga menuju pada back office setiap harinya, sehingga dirinya bisa menilai dan mengevaluasi kapan pekerjaan itu dikatakan telah efisien dan efektif berjalan dengan baik.
Belum lagi sekian banyak kasus lainnya….terkadang kita seringkali disibukkan dengan menata diri kita dengan bantuan apa yang disebut teknologi. Sehingga seolah kita bisa tertib, kita bisa lebih berkualitas karena fasilitas yang didapatkan. Sering kali saya menjumpai dalam sebuah majelis rapat, bahwa ada yang menyampaikan untuk meraih ini dan itu maka diperlukan sebuah fasilitas yang ini dan itu, begitu juga seorang mahasiswa atau anak-anak sekolahan yang disibukkan dengan kewajiban untuk memiliki fasilitas tertentu sehingga dirinya merasa bahwa untuk bisa mencapai kualitas tersebut kita harus didukung fasilitas tertentu.
Mungkin, kita juga perlu berkaca secara ekstrim bahwa, suatu ketika pula, saya pernah jalan pagi-pagi bertemu dengan seorang penjual sayur memakai sepeda ‘onthel’ dan seorang pengemis muda diperempatan besar yang menyampangi saya dikaca jendela mobil untuk meminta sebagian harta yang saya miliki. Saya sempat menggelengkan kepala, ketika melihat si ibu penjual sayur yang naik sepeda untuk menjual sayurnya kepasar tersebut melenggang dengan menerima sebuah telpon genggam dari seseorang. Si ibu, mengangguk-angguk menerima telpon dan berbicara agak panjang, hingga menghentikan sejenak kayuhan sepedanya dan berhenti sejenak untuk bincang-bincang panjang dengan lawan bicaranya.
Sedangkan dilain kesempatan, bersama sang pengemis muda diperempatan jalan. Saya pun juga merasa kaget ketika, dirinya setelah meminta sebagian harta, kemudian dirinya menepi, berkumpul bersama teman-temannya kemudian mengeluarkan handphone dari kantong saku celananya. Dan bercakap-cakap dengan lawan bicaranya.
Luar biasa, ini sebuah fenomena…ada sebuah pertanyaan besar..tentunya apakah yang dilakukan si ibu penjual sayur dan pengemis muda tersebut cukup mampu memanfaatkan waktu dengan baik, apakah kemudian fasilitas yang mereka dapatkan mampu untuk merubah kualitas hidupanya. Jawabnya, kok lebih cenderung tidak.
Banyak dari seseorang yang dengan banyaknya fasilitas yang didapatkan ternyata tidak sesuai output yang dihasilkan.
Nampak bahwa sesungguhnya sekarang ini kita telah disibukkan dengan sebuah fasilitas yang mendorong kita untuk butuh mengkonsumsinya pada hal kita tidak membutuhkannya untuk kualitas hidup kita. Fasilitas terkdang lebih seperti virus yang sangat cepat menggerogoti diri kita sehingga diri kita tidak sadar bahwa kita sedang di setir oleh fasilitas.
Sebaliknya, justru aktivitas kitalah seharusnya yang mampu menyetir kualitas hidup kita. Kita harus mampu menciptakan sebuah aktivitas hidup yang baik, guna memanfaatkan fasilitas yang ada untuk sebuah kualitas hidup yang baik, lebih bermakna dan bermaslahah.
Mungkin kita perlu berkaca bahwa, terkadang ketidaktertiban diri kita bukan berarti harus disolusikan dengan menambah fasilitas yang menertibkan kita, namun justru yang paling urgen adalah kesadaran kita untuk beraktifitas secara baik itulah utamanya. Kesadaran individual yang melahirkan sosok kesadaran sosial dalam beraktivitas positif inilah factor utama seseorang untuk dapat berkualitas dalam hidupnya, yang tidak mudah tergantung dan terombang-ambing dengan fasilitas yang membuat dirinya semakin konsumtif terhadap sosok yang bernama fasilitas. Terkadang dengan berkaca akan urgensi fasilitas ini kita bisa lebih mengefektifkan anggaran yang cuku besar. (wallahu a’lam).
Activity driven not Facility driven!
Advertisement
